Selamat Datang Di Website Kantor Kementerian Agama Kota Serang

Pindapata Warnai Serang Walk for Peace, Wujud Nyata Harmoni dan Semangat Berbagi di Kota Serang

Tradisi Pindapata mewarnai pelaksanaan Serang Walk for Peace dalam rangka peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026 di Kota Serang, Minggu (5/7). Kegiatan ini diinisiasi oleh Kementerian Agama melalui Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Provinsi Banten bersama Pemerintah Kota Serang, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang sebagai wujud kolaborasi dalam memperkuat kerukunan umat beragama.

Mengusung tema "Melangkah Bersama, Menebarkan Perdamaian", kegiatan diawali dengan prosesi Pindapata yang diikuti para bhikkhu dengan berjalan kaki menyusuri rute dari Vihara Sukhawati menuju Vihara Metta. Di sepanjang perjalanan, masyarakat menyambut para bhikkhu dengan memberikan dana berupa makanan, buah-buahan, kebutuhan pokok, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan lain yang diserahkan dengan penuh rasa hormat dan sukacita.

Pindapata merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak masa Buddha Gautama dan masih dilestarikan hingga kini oleh umat Buddha di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam tradisi ini, para bhikkhu berjalan kaki menerima dana dari umat sebagai bagian dari praktik kehidupan sederhana dan bentuk kedekatan antara Sangha dengan masyarakat.

Berbeda dengan kegiatan amal pada umumnya, para bhikkhu tidak meminta ataupun memilih pemberian yang diterima. Mereka menerima setiap persembahan dengan penuh rasa syukur, sementara umat memberikan dana secara sukarela sebagai praktik dāna atau kebajikan.

Dana yang diberikan dianjurkan dalam kondisi bersih, layak, dan bermanfaat, sedangkan masyarakat diimbau menyerahkan persembahan dengan sikap hormat, menjaga ketertiban, serta tidak mengganggu jalannya prosesi agar nilai-nilai spiritual tetap terpelihara.

Pelaksanaan Serang Walk for Peace tidak hanya menjadi rangkaian peringatan Hari Raya Waisak, tetapi juga menjadi ruang penguatan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama. Kehadiran unsur pemerintah, tokoh agama, organisasi keagamaan, serta masyarakat dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang rukun dan harmonis.